Cara menghitung keketatan prodi SNBP dan SNBT

Cara menghitung keketatan prodi: bagi daya tampung dengan jumlah peminat, lalu kali 100 %. Daya tampung 300 dengan 1.200 peminat berarti keketatan 25 %, atau 1 kursi untuk 4 pendaftar (1 : 4). Ketik angka peminat dan daya tampung dari portal SNPMB atau situs kampus, dan persentase serta rasionya langsung muncul.

Contoh: Jumlah peminat (pendaftar) 1.200 orang · Daya tampung (kuota) 300 orang → Keketatan: 25% (rasio 1 : 4,0). Sumber: SNPMB – Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru: daya tampung SNBP dan SNBT per program studi, data historis (dicek 7 Oktober 2026). Diperbarui: .

orang
orang
orang
Untuk menghitung peluang nyata dari data akhir. Biarkan 0 bila tidak dipakai.
orang
Jumlah yang diterima bisa berbeda dari daya tampung. Biarkan 0 bila tidak dipakai.
Kotak Alat SayaInput Anda hanya disimpan di browser ini.

Hasil

Keketatan
25% (rasio 1 : 4,0)
Cara hitung
300 ÷ 1.200 × 100 % = 25% · 1.200 ÷ 300 = 4,0
Artinya
Sekitar 1 dari 4 peminat diterima (peluang 25%)
Tabel keketatan untuk daya tampung ini
RasioPeminatKeketatan
1 : 1,2360 orang83,3%
1 : 1,5450 orang66,7%
1 : 2600 orang50%
1 : 3900 orang33,3%
1 : 41.200 orang25%
1 : 51.500 orang20%
1 : 103.000 orang10%

Cara menghitung

Keketatan (%) = daya tampung ÷ jumlah peminat × 100 %. Makin kecil persentasenya, makin ketat prodi itu. Contoh: daya tampung 300, peminat 1.200 → 300 ÷ 1.200 × 100 % = 25 %.

Dua cara menulis keketatan

Di Indonesia keketatan paling sering ditulis dalam persen: berapa persen peminat yang bisa diterima. Sebagian situs menulisnya sebagai rasio 1 : n, yaitu peminat ÷ daya tampung: 1.200 ÷ 300 = 4, jadi 1 : 4 atau “1 kursi diperebutkan 4 orang”. Keduanya menyatakan hal yang sama – 25 % sama dengan 1 : 4 – sehingga kalkulator menampilkan keduanya. Waspadai tabel yang menulis “keketatan 4 %” padahal maksudnya rasio; angka persen di atas 100 % juga tidak mungkin kecuali peminat lebih sedikit dari kuota.

Keketatan SNBP dan SNBT: dari mana angkanya?

Portal SNPMB menampilkan daya tampung per program studi untuk SNBP dan SNBT, termasuk data historis tahun-tahun sebelumnya; jumlah peminat diumumkan di sana atau di situs penerimaan tiap PTN. Hitung terpisah untuk tiap jalur: daya tampung SNBP dan SNBT berbeda untuk prodi yang sama, dan peminatnya juga berbeda. Karena data peminat tahun ini baru diketahui setelah pendaftaran ditutup, keketatan selalu merupakan gambaran dari tahun lalu.

Tabel keketatan untuk daya tampung 300

RasioPeminatKeketatan
1 : 1,236083,3 %
1 : 1,545066,7 %
1 : 260050 %
1 : 390033,3 %
1 : 41.20025 %
1 : 51.50020 %
1 : 103.00010 %

Peluang nyata dari data akhir

Kalau kampus mengumumkan jumlah peserta dan jumlah yang benar-benar diterima, isi kedua kolom opsional. Contoh: 1.150 peserta, 290 diterima → 290 ÷ 1.150 × 100 % = 25,2 % (1 : 4,0). Angka ini bisa berbeda dari keketatan berdasarkan daya tampung, misalnya bila kuota tidak terisi penuh.

Keketatan bukan satu-satunya ukuran

Keketatan 10 % tidak berarti peluang Anda pasti 10 %. Peluang bergantung pada nilai rapor atau skor UTBK Anda dibanding pesaing, bukan hanya jumlah pendaftar. Prodi dengan keketatan longgar pun bisa menolak pendaftar yang nilainya kurang. Untuk menghitung nilai rata-rata rapor, pakai hitung rata-rata nilai raport; untuk persen lain, pakai kalkulator persen, dan untuk peluang umum, menghitung peluang.

Pertanyaan umum

Bagaimana cara menghitung keketatan jurusan?

Daya tampung ÷ jumlah peminat × 100 %. Daya tampung 300 dengan 1.200 peminat memberi keketatan 25 %.

Keketatan 25 % artinya apa?

Dari 100 peminat, sekitar 25 yang bisa diterima – sama dengan rasio 1 : 4.

Lebih ketat mana, keketatan 5 % atau 20 %?

Keketatan 5 % lebih ketat: hanya 1 dari 20 peminat yang diterima. Keketatan 20 % berarti 1 dari 5.

Bagaimana mengubah rasio 1 : n menjadi persen?

Bagi 100 dengan n. Rasio 1 : 4 sama dengan 25 %, 1 : 10 sama dengan 10 %.

Apakah keketatan SNBP dan SNBT sama?

Tidak. Tiap jalur punya daya tampung dan peminat sendiri, jadi hitung keketatannya terpisah per jalur.

Sumber dan dasar hukum

Diperbarui: · Kebijakan editorial

Alat terkait